Surat Elektronik (E- Mail)
Email adalah aplikasi yang memungkinkan para pengguna internet untuk
saling berkirim pesan melalui alamat elektronik di internet.
Email dari mulai ditulis, dikirim, hingga diterima dan dibaca
semuanya ditangani secara elektronis. Umumnya email dibuat (atau
ditulis) menggunakan Mail User Agent (MUA) lebih umum dikenal sebagai
Email client), kemudian proses pengiriman ditangani oleh Mail Transfer
Agent (MTA) yang sering juga disebut sebagai mail server. MUA juga
digunakan untuk membuka dan membaca email kembali.
Metode pengiriman E-mail
Untuk mengirim surat elektronik kita memerlukan suatu program
mail-client. Surat elektronik yang kita kirim akan melalui beberapa poin
sebelum sampai di tujuan. Untuk lebih jelasnya lihat diagram dibawah.
Contoh yang dipakai adalah layanan SMTP dan POP3.
Saya menulis surel → e-mail client (di komputer saya) → SMTP server
penyedia e-mail saya → Internet → POP3 server penyedia e-mail penerima →
e-mail client (di komputer si penerima) → surat dibaca si penerima
Terlihat surat elektronik yang terkirim hanya melalui 5 poin (selain
komputer pengirim dan penerima). Sebenarnya lebih dari itu sebab setelah
surat elektronik meninggalkan POP3 Server maka itu akan melalui banyak
server-server lainnya. Tidak tertutup kemungkinan surat elektronik yang
kita kirim disadap orang lain. Maka dari itu bila surat elektronik yang
kita kirim mengandung isi yang sensitif sebaiknya kita melakukan
tindakan pencegahan, dengan mengacak (enkrip) data dalam surat
elektronik tersebut (contohnya menggunakan PGP, sertifikat digital, dan
lain-lain)
Bank Teller Terminal (ATM)
ATM (Automatic teller machine merupakan singkatan
bagi anjungan tunai mandiri) adalah sebuah alat elektronik yang
mengijinkan nasabah bank untuk mengambil uang dan mengecek rekening
tabungan mereka tanpa perlu dilayani oleh seorang “teller” manusia.
Banyak ATM juga mengijinkan penyimpanan uang atau cek, transfer uang
atau bahkan membeli perangko.
Dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini transaksi apapun
dapat dilakukan melalui ATM, mulai dari penarikan tunai, transfer,
pemindah bukuan, pembayaran tagihan, bahkan setoran tunai maupun cetak
buku dapat dilakukan di ATM.
System kerja atm (automatic teller machine)
Untuk melakukan berbagai transaksi di ATM, membutuhkan sebuah kartu
identitas nasabah yang di dalamnya terdapat nama nasabah, ID nasabah,
danlain-lain, yang biasanya disebut KARTU ATM. Dan untuk memperoleh
sebuah Kartu ATM, seorang nasabah terlebih dahulu harus membuat sebuah
permohonan kepada pihak bank untuk membuat KARTU ATM dengan memenuhi
persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan untuk identitas nasabah.
Kemudian pihak bank akan memberikan sebuah ID Card atau PIN sebagai
ID Kartu ATM nasabah. Setelah mendapatkan Kartu ATM, nasabah dapat
langsung menggunakannya sebagai syarat pengaktifan Card. PIN yang diberi
oleh pihak bank dapat dirubah oleh nasabah.
Langkah pertama yang dilakukan oleh Mesin adalah membaca ID Card
nasabah yang dilakukan oleh magnetic card reader setelah Kartu
dimasukkan melalui slot card kedalam mesin. Fungsi dari magnetic card
reader hanya sebagai pembaca dan penerima data. Setelah dibaca, lalu
data tersebut akan dikirim ke sistem komputerisasi bank. Karena
fungsinya hanya sebagai penerima data maka magnetic card reader tidak
memiliki memori yang bisa menyimpan data nasabah. Sementara Kartu ATM
akan tersimpan didalam mesin dan akan keluar otomatis setalah nasbah
memutuskan transaksi.
Saat mesin berhasil membaca data dalam Kartu ATM tersebut, maka mesin
akan meminta data PIN. PIN ini tidak terdapat di dalam kartu ATM
melainkan harus di-input dengan menggunakan tombol keyboard ATM oleh
nasabah. Setelah PIN dimasukkan, maka data PIN tersebut akan diacak
(di-encrypt) dengan rumus tertentu dan dikirim ke sistem komputerasi
bank bersangkutan. Pengacakan data PIN ini dimaksudkan agar data yang
dikirim tidak bisa terbaca oleh pihak lain.
PIN yang sudah diacak berikut isi data dari kartu akan dikirim
langsung ke sistem komputer bank untuk validasi sebagai bagian dari
setiap transaksi. Setelah data selesai dan diproses di sistem komputer
bank, maka data akan dikirim kembali ke ATM, dan nasabah akan
mendapatkan apa yang yang dimintanya (dapat bertransaksi) di ATM dengan
mengikuti instruksi-instruksi optional yang dikirim mesin ke monitor
mesin.
Perlu nasabah ketahui bahwa mesin ATM tidak menyimpan data nasabah
maupun PIN nasabah. Ini karena prinsip kerja mesin ATM hanya
menyampaikan pesan (pass through request) nasabah ke sistem komputer
bank bersangkutan. Dan ATM hanya dapat melayani satu nasabah pada satu
waktu saja.
Setelah transaksi selesai, mesin akan memprintkan sejumlah data
transaksi yang telah dilakukan (optional) atau jika nasabah tidak
menginginkan print data dilakukan, mesin akan tetap memberikan informasi
transaksi saat itu melalui monitor mesin. Dan secara otomatis, akan ada
perubahan jumlah saldo nasabah. Kemudian kartu akan keluar dari slotnya
dan transaksi akan benar-benar selesai.
E-commerce
E-commerce atau bisa disebut Perdagangan elektronik atau e-dagang
adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa
melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau
jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat melibatkan transfer dana
elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori
otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.
Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-dagang ini sebagai
aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business) yang berkaitan dengan
transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM
(supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran
online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online
transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data
interchange /EDI), dll.
E-dagang atau e-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana
cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi
mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan
pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-dagang juga memerlukan
teknologi basisdata atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat
elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti
halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-dagang
ini.
E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat
pertama kali banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan
periklanan di suatu halaman-web (website). Menurut Riset Forrester,
perdagangan elektronik menghasilkan penjualan seharga AS$12,2 milyar
pada 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu,
pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat
diramalkan akan mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.
Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak
hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim
manajemen yang handal, pengiriman yang tepat waktu, pelayanan yang
bagus, struktur organisasi bisnis yang baik, jaringan infrastruktur dan
keamanan, desain situs web yang bagus, beberapa faktor yang termasuk:
1. Menyediakan harga kompetitif
2. Menyediakan jasa pembelian yang tanggap, cepat, dan ramah.
3. Menyediakan informasi barang dan jasa yang lengkap dan jelas.
4. Menyediakan banyak bonus seperti kupon, penawaran istimewa, dan diskon.
5. Memberikan perhatian khusus seperti usulan pembelian.
6. Menyediakan rasa komunitas untuk berdiskusi, masukan dari pelanggan, dan lain-lain.
7. Mempermudah kegiatan perdagangan
Beberapa aplikasi umum yang berhubungan dengan e-commerce adalah:
* E-mail dan Messaging
* Content Management Systems
* Dokumen, spreadsheet, database
* Akunting dan sistem keuangan
* Informasi pengiriman dan pemesanan
* Pelaporan informasi dari klien dan enterprise
* Sistem pembayaran domestik dan internasional
* Newsgroup
* On-line Shopping
* Conferencing
* Online Banking
Perusahaan yang terkenal dalam bidang ini antara lain: eBay, Yahoo,
Amazon.com, Google, dan Paypal. Untuk di Indonesia, bisa dilihat
tradeworld.com,
bhineka.com,
fastncheap.com, dll.
Transisi Dan Siklus Pengembangan E-Commerce Di Perusahaan
Membangun dan mengimplementasikan sebuah sistem E-Commerce bukanlah
merupakan sebuah proses atau program “sekali jadi”, namun merupakan
suatu sistem yang perlahan-lahan berkembang terus-menerus sejalan dengan
perkembangan perusahaan. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan besar yang
memilih jalan evolusi dalam memperkenalkan dan mengembangkan E-
Commerce di perusahaannya. Alasan utama yang melatarbelakangi pemikiran ini adalah sebagai berikut:
Mengimplementasikan sebuah sistem E-Commerce tidak semudah atau
sekedar mempergunakan sebuah perangkat aplikasi baru, namun lebih kepada
pengenalan sebuah prosedur kerja baru (transformasi bisnis). Tentu saja
perubahan yang ada akan mendatangkan berbagai permasalahan, terutama
yang berhubungan dengan budaya kerja dan relasi dengan rekanan maupun
pelanggan (Fingar, 2000):
- Sistem E-Commerce melibatkan arsitektur perangkat lunak dan
perangkat keras yang akan terus berkembang sejalan dengan kemajuan
teknologi, sehingga strategi pengembangan dan penerapannya-pun akan
berjalan seiring dengan siklus hidup perusahaan; dan
- Mengembangkan sistem E-Commerce secara perlahan dan bertahap secara
tidak langsung menurunkan tingginya resiko kegagalan implementasi
yang dihadapi perusahaan.
Gambar berikut memperlihatkan strategi pengembangan E-Commerce secara
evolusioner dalam bentuk diagram transisi dari satu fase ke fase
berikutnya.
Hal pertama yang baik untuk dilakukan adalah menyamakan visi
E-Commerce diantara seluruh manajemen perusahaan melalui berbagai
pendekatan formal maupun informal.
Jajaran Direksi dan Manajemen Senior harus memiliki visi yang jelas
dan tegas, dan dipahami oleh seluruh perangkat perusahaan untuk
menghasilkan kesamaan gerak di dalam perkembangan implementasi
E-Commerce. Visi yang jelas juga diharapkan akan mengurangi berbagai
hambatan-hambatan atau resistansi yang mungkin timbul karena tidak
didukungnya program tersebut oleh jajaran manajemen atau staf perusahaan
yang ada.
Mensosialkan visi E-Commerce di perusahaan dapat dilakukan melalui
berbagai cara, seperti pelatihan formal, diskusi/rapat bulanan, seminar,
diskusi dan tanya jawab, dan lain sebagainya. Visi E-Commerce ini harus
pula disosialkan di kalangan rekanan bisnis dan para pelanggan, karena
walau bagaimanapun mereka semua akan merupakan bagian yang secara
langsung atau tidak langsung akan memiliki pengaruh dalam pengembangan
dan implementasi E-Commerce.
Langkah berikutnya adalah melakukan koordinasi antara berbagai pihak
yang akan membangun sistem E-Commerce bersama perusahaan terkait.
Pihak-pihak tersebut misalnya: rekanan bisnis (seperti pemasok dan
distributor), vendor teknologi informasi, pelanggan, bank (penyedia jasa
kartu kredit), pihak asuransi, dan lain sebagainya. Tujuan dari
koordinasi ini adalah pengembangan sebuah kerangka kerja sama yang
disepakati bersama, sehingga dalam perjalanan implementasinya,
E-Commerce tidak mendapatkan gangguan yang berarti. Seluruh pihak-pihak
dalam “konsorsium” ini harus menyadari bahwa mereka semua berada dalam
sebuah ekosistem E-Commerce, dimana sistem yang ada baru akan berjalan
secara baik jika masing-masing komponennya memiliki kinerja yang baik
sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Tahap berikutnya merupakan sebuah fase yang cukup sulit, karena
diperlukan suatu pemahaman yang baik terhadap apa yang disebut sebagai
metoda pendekatan sistem (system thinking). Penggabungan proses bisnis
beberapa perusahaan dengan menggunakan kerangka E-Commerce tidak sekedar
menghubungkan satu divisi dengan divisi lain dengan menggunakan
perangkat telekomunikasi dan komputer, tetapi lebih jauh merupakan suatu
usaha membentuk sistem bisnis yang lebih besar dan luas
(internetworking). Pemahaman mengenai perilaku sebuah sistem, yang
terdiri dari berbagai komponen arsitektur yang saling terkait dan
terintegrasi merupakan hal mutlak yang harus dikuasai oleh mereka yang
bertanggung jawab terhadap sistem tersebut. Tahap ini memiliki tujuan
untuk mengadakan suatu analisa terhadap hal-hal pokok berkaitan dengan
prinsip-prinsip dasar bisnis setelah lingkungan kerjasama baru antar
perusahaan terbentuk, seperti:
- Menentukan model bisnis yang akan diterapkan di dalam E-Commerce;
- Mendefinisikan segmen pasar dan tipe pelanggan yang akan menjadi target;
- Menyusun kebijakan atau peraturan pembelian melalui internet bagi pelanggan;
- Membagi tugas dan tanggung jawab antar berbagai pihak yang berkerja sama;
- Mengusulkan pembagian biaya dan keuntungan dari model bisnis baru tersebut; dan lain sebagainya.
Setelah “panggung” infrastruktur E-Commerce selesai dibangun, tahap
berikutnya adalah menentukan proyek percontohan atau proyek awal (pilot
project) yang akan diujicoba dan diimplementasikan. Prinsip “don’t run
before you can walk” merupakan pedoman pemikiran yang biasa dipergunakan
dalam skenario implementasi teknologi informasi secara evolusi ini.
Diharapkan dari pilot project ini dapat dilihat seberapa “feasible”
konsep-konsep model bisnis yang telah dirancang dapat memenuhi objektif
yang dikehendaki. Berdasarkan hasil evaluasi dan fakta yang terjadi
selama pilot project dirancang dan diimplementasikan, berbagai perbaikan
konsep dilakukan dan dimatangkan.
Hal terakhir dalam siklus yang harus dilakukan adalah pembentukan tim
penanggung jawab program pengembangan dan implementasi E-Commerce.
Hampir semua pengembangan sistem E-Commerce dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan proyek (project management), dimana tim terkait
harus berhadapan dengan portofolio program-program pengembangan
E-Commerce yang beragam dan bertahap. Yang harus diperhatikan oleh
manajemen perusahaan adalah suatu kenyataan bahwa tim penanggung jawab
pengembangan dan implementasi E-Commerce tidak hanya harus terdiri dari
mereka yang memiliki kompetensi dan keahlian yang memadai, tetapi mereka
haruslah merupakan pekerja-pekerja waktu penuh (full time); atau dengan
kata lain, mereka tidak boleh terpecah fokusnya untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan lain di dalam perusahaan.
Di dalam perkembangannya, inisiatif-inisiatif baru akan terjadi, dan
secara natural akan kembali ke siklus analisa kesempatan bisnis
E-Commerce (inter-enterprise assessment). Dalam kerangka inilah evolusi
secara perlahan-lahan akan terjadi dan E-Commerce akan berkembang dari
satu tahap ke tahap berikutnya.
E banking
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di perbankan nasional
relatif lebih maju dibandingkan sektor lainnya. Berbagai jenis
teknologinya diantaranya meliputi
Automated Teller Machine,
Banking Application System,
Real Time Gross Settlement System, Sistem Kliring Elektronik, dan
internet banking.
Bank Indonesia sendiri lebih sering menggunakan istilah Teknologi
Sistem Informasi (TSI) Perbankan untuk semua terapan teknologi informasi
dan komunikasi dalam layanan perbankan. Istilah lain yang lebih populer
adalah Electronic Banking.
Electronic banking mencakup wilayah yang luas dari teknologi yang
berkembang pesat. Beberapa diantaranya terkait dengan layanan perbankan
di “garis depan” atau front end, seperti ATM dan komputerisiasi (sistem)
Perbankan, dan beberapa kelompok lainnya bersifat ”back end”, yaitu
teknologi-teknologi yang digunakan oleh lembaga keuangan, merchant, atau
penyedia jasa transaksi, misalnya electronic check conversion.
Selain itu, beberapa jenis E-banking terkait langsung dengan rekening
bank. Jenis E-Banking yang tidak terkait rekening bias any berbentuk
nilai moneter yang tersimpan dalam basis data atau dalam sebuah kartu
(chip dalam smart card). Dengan semakin berkembangnya teknologi dan
kompleksitas transaksi, berbagai jenis E-bankinf semakin sulit dibedakan
karena fungsi dan fiturnya semakin terintegrasi atau mengalami
konvergensi. Sebagai contoh, sebuah kartu plastik mungkin memiliki
“magnetic strip”- yang bisa mengkaitkan dengan rekening bank, dan juga
memiliki nilai moneter yang tersimpan dalam sebuah chip. Kadang kedua
jenis kartu tersebut disebut “debit card” oleh merchant atau vendor.
Beberapa gambaran umum mengenai jenis-jenis teknologi E-Banking dapat
dilihat di bawah ini.
M banking
M-Banking memiliki pengertian yaitu sebuah fasilitas perbankan
melalui komunikasi bergerak seperti handphone. Dengan penyediaan
fasilitas yang hampir sama dengan ATM kecuali mengambil uang cash.Dengan
ada nya M-Banking,pihak perbankan berusaha mempermudah akses para
nasabahnya dalam melakukan transaksi.Dengan adanya layanan
M-Banking,nasabah bank-bank yang telah memiliki layanan ana tentu saja
tidak perlu pergi ke ATM atau kantor Bank tersebut.
Hampir semua bank di Indonesia telah menyediakan fasilitas
M-Bankingnya baik berupa SIMtolkit (Menu Layanan Data) maupun sms plain
(sms manual) atau dikenal dengan istilah sms banking.
Arti istilah SMS Banking merupakan layanan yang disediakan Bank
menggunakan sarana SMS untuk melakukan transaksi keuangan dan permintaan
informasi keuangan , misalnya cek saldo, mutasi rekening dan
sebagainya.
Keunggulan M-Banking adalah dapat di akses oleh semua pengguna handphone
dengan tipe GSM.Dengan luasnya jangkauan signal GSM,layanan M-Banking
tentu sangat memanjakan para nasabah.

Namun
Fasilitas M-Banking memiliki beberapa kelemahan diantaranya adalah
akses untuk pengguna handphone CDMA, belum semua operator CDMA mempunyai
layanan M-Banking.
Hotel Reservation System
Hotel Reservation System yang berarti Sistem Informasi Reservasi
Perhotelan merupakan salah satu bentuk pelayanan publik yang menawarkan
suatu jasa dalam hal pendataan administrasi pada Reservasi perhotelan
yang sangat memerlukan ketepatan mekanisme dan penataan yang
terorganisir agar data dapat terkemas dan terjaga keamanannya dengan
baik dalam bentuk database. Database tersebut dibuat dengan tujuan agar
proses kerja lebih optimal dan dapat dilakukan secara cepat dan tepat
dengan tingkat kesalahan yang dapat diminimalisasi.
Danum Hotel merupakan salah satu proyek pembangunan hotel yang ada di
kota Palangka Raya dan sudah barang tentu memerlukan suatu sistem
pengelolaan Reservasi perhotelan yang mampu memberikan kemudahan dalam
proses perkembangan hotel tersebut seperti bagaimana interface sistem
yang dapat memudahkan pengguna (operator/bagian receptionist) dari suatu
hotel untuk mengakses sistem tersebut. Serta dianggap sangat perlu
untuk pihak hotel harus memiliki pengelolaan database yang baik agar
dikemudian hari dapat melihat informasi yang dibutuhkan dari kegiatan
suatu hotel tersebut.
1. Atas dasar pertimbangan beberapa hal di atas, maka penulis tertarik
membuat sebuah sistem dengan komputer untuk mengatur sistem informasi
Reservasi perhotelan, dimana penulis mengembangkannya denganprogram
aplikasi Visual Basic 6.0 dan Crystal Report, dengan akses database
menggunakan Ms Access dengan judul “ Sistem Informasi Reservasi
Perhotelan ”.
Cara Kerja Kartu Kredit
Kartu kredit adalah jenis pinjaman yang paling sering diajukan dan
digunakan orang. Kartu kredit adalah salah satu sarana dalam mengelola
keuangan yang memberi Anda kemudahan jika dikelola dengan baik. Ketahui
dan pahami syarat dan ketentuan yang berlaku. Jika Anda sudah tahu cara
kerjanya, niscaya Anda dapat mengontrol keuangan dengan baik.
Credit Limit

Jika permohonan kartu kredit Anda disetujui, pihak penerbit kartu kredit
akan menentukan credit limit kartu Anda. Credit limit adalah jumlah
maksimum yang dapat Anda gunakan dalam bertransaksi dengan menggunakan
kartu tersebut. Tiap penerbit kartu kredit memiliki kebijakan yang
berbeda dalam menentukan credit limit atas setiap kartu kredit yang
diterbitkan.
Hal-hal yang mempengaruhi penentuan credit limit, antara lain:
| - |
Pendapatan bulanan |
| - |
Pinjaman saat ini (dari kartu kredit lain, kredit mobil, dan lain-lain) |
| - |
Lama tinggal di alamat yang sekarang |
| - |
Kepemilikan rumah |
| - |
Jumlah permohonan kartu kredit yang pernah dilakukan |
| - |
Jumlah kredit yang diperlukan |
Anda dapat meminta penerbit kartu kredit Anda untuk menaikkan credit
limit kartu anda. Keputusan menaikkan credit limit tergantung kepada
situasi keuangan Anda secara keseluruhan. Anda mungkin bisa mendapatkan
credit limit yang lebih tinggi jika persentase penggunaan credit limit
yang tersedia menunjukkan Anda membutuhkan credit limit yang lebih
tinggi, selalu membayar tepat waktu, pendapatan meningkat, dan/atau Anda
selalu membayar lebih dari pembayaran minimum atau membayar tagihan
penuh.
Sistem Reservasi Airline
Sistem yang digunakan sebagai POS
(Point Of Sales) disebut dengan
Global Distribution System(GDS). GDS memiliki
interface yang berupa GUI
(Graphical User Interface) yang langsung berhadapan dengan pelanggan. Saat pelanggan berinteraksi dengan sistem malalui GUI, maka sistem tersebut secara
real-time
akan melakukan proses-proses back-office diantaranya melakukan
validasi, otorisasi dan konfirmasi yang akhirnya akan memberikan
pelanggan suatu bukti penjualan tiket sehingga bukti penjualan ini yang
akhirnya akan digunakan sebagai tiket pesawat.

Keberhasilan AirAsia yang dapat mempertahankan kualitas maskapainya dengan penggunaan
e-Business sebagai
core business model merupakan salah satu bukti bahwa teknologi dapat memberikan
competitive advantage
dalam persaingan bisnis. Namun pengggunaan teknologi juga harus
didukung dengan infrastruktur dan sistem yang memadai sehingga akan
memberikan hasil yang optimal bagi profitabilitas perusahaan.
POLICE EMERGENCY SYSTEM,
1. A police-emergency system of wireless communication
comprising: Seorang polisi-sistem darurat komunikasi nirkabel yang
terdiri dari:
a magnetic card composed of an identification device, a battery
device, a sound-light device, a control circuit, a wireless
communication module wherein said control circuit comprising an
emergency button and a confirm button; said magnetic card which utilizes
the control circuit to generate a signal; kartu magnetik yang terdiri
dari sebuah perangkat identifikasi, perangkat baterai, suara-perangkat
cahaya, rangkaian kontrol, modul komunikasi nirkabel di
mana
kata yang terdiri dari rangkaian kontrol tombol darurat dan sebuah
tombol konfirmasi; mengatakan kartu magnetik yang memanfaatkan rangkaian
kontrol untuk menghasilkan sinyal;

a host server comprising
a wireless communication module, a system, a database and a
microprocessor; said host server which receives the signal from the
magnetic card and judges the source of the signal; and server host yang
terdiri dari modul komunikasi nirkabel, sebuah sistem,
database
dan sebuah microprocessor; kata host server yang menerima sinyal dari
kartu magnetik dan hakim sumber sinyal, danpolisi-sistem darurat
polisi-warga sambungan menerima sinyal dari kata host
server dan menghubungkan dengan polisi segera bagi polisi untuk pergi di tempat kejadian dalam waktu;
Sistem Kendali Lalu lintas Kendaraan atau Auto Traffic Control System (ATCS)
adalah pengendalian
lalu lintas dengan menyelaraskan waktu lampu merah pada jaringan jalan raya dari sebuah
kota. Pengaturan lalu lintas melalui sistem ini memerlukan parameter jumlah kendaraan dan waktu tempuh kendaraan
Sitem Remote Monitoring
Hidrologi dan Klimatologi (Remote Monitoring)
– Sistem pengukuran HIDROLOGI dan KLIMATOLOGI di lapangan seringkali
sulit dilakukan secara manual oleh manusia. Untuk keperluan ini maka
dibutuhkan suatu instrumentasi yang reliable untuk jangka waktu cukup
lama dengan melakukan pengukuran berulang-ulang secara periodik.

Pengukuran
parameter – parameter yang berlainan dalam satu waktu bersamaan
memerlukan suatu integrasi dari keseluruhan sistem pengukuran kedalam
suatu data kolektor. Pada sistem yang lebih luas data ini harus
digabungkan pada suatu sistem data base terpusat. Dengan sistem ini maka
dapat dihasilkan interpretasi untuk decision support system yang
menyeluruh tentang data cuaca. Implementasinya antara lain : menentukan
pola cocok tanam sistem pengairan pada pertanian; monitoring sistem
irigasi dan bendungan; pemantauan muka air tanah perkotaan; pengendalian
banjir dan bencana; dan lain sebagainya. Pengukuran Hidrologi dan
Klimatologi tersebut adalah:
1. Water Level
2. Water flow
3. Precipitation
4. Evaporation
5. Air flow
6. Moist dan Temperatur
7. Radiation
Semua peralatan tersebut bisa dikontrol secara WIRELESS (telemetri) melalui selular (GSM/CDMA/GPRS) atau fix phone.